1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer>

 

Profil Peternakan

Thursday, 06 May 2010 13:56

Written by Admin

PDF Print E-mail
Article Index
Profil Peternakan
Renja 2009
Renja 2010
All Pages

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Sub sektor peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian yang sangat strategis untuk bertumbuh kembang di Ogan Komering Ilir karena secara komparatif merupakan salah satu sektor unggulan dari enam sektor unggulan di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Hal ini sangat terkait dengan potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia peternakan.

Potensi ekonomi sub sektor peternakan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan mampu memberikan kontribusi dan meningkatkan kemakmuran rakyat. Disisi lain tantangan besar yang dihadapi harus diatasi dalam pembangunan sub sektor peternakan, karena sudah merupakan isu yang selama ini berkembang dimasyarakat sebagai ungkapan harapan dan keinginan mendayagunakan sumberdaya alam yang tersedia.

Pembangunan pada hakekatnya bertujuan untuk peningkatan taraf hidup rakyat melalui perbaikan tingkat pendapatan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Untuk mencapai cita – cita dimaksud dipergunakan konsep pembangunan Nasional. Pembangunan sampai saat ini masih bertumpu pada sektor pertanian yang bertujuan agar dapar menopang sektor industri, sudah selayaknya pembangunan tersebut diarahkan pada pembangunan pedesaan. Mengingat kemampuan pendanaan pemerintah sangat terbatas, diharapkan seluruh komponen bangsa dapat turut berperan secara optimal terutama masyrakat setempat yang merupakan asset penting dari keanekaragaman bangsa.

Program pembangunan akan berjalan dan berhasil apabila didukung oleh masyarakat, untuk itu perencanaan pembangunan harus mengakar dan mengacu pada ciri masyarakat setempat dengan melihat tingkat kesamaan dan keragaman masyarakat, serta untuk mengakselerasikan tujuan pembangunan diterapkan pola usaha tani terpadu (integrated farming system).

Pada masa yang akan datang, pembangunan harus lebih banyak diperankan oleh masyarakat, untuk itu interaksi simbiosis mutualistik dan partisipasi masyarakat dengan memasukkan aspek sosial, ekonomi dan budaya sebagai variable endogen mempertinggi gugus manfaat langsung dan tidak langsung, diantaranya meminimalkan resiko dan memaksimalkan pendapatan. Upaya yang menjurus kepada “win win solution” dengan meningkatkan kemampuan aspek ekonomi dan komersil para stakeholders dapat sekaligus melestarikan ciri dan budaya lokal serta tercipta keseimbangan ekosistem sekaligus menekan timbulnya konflik.

Sub sektor peternakan di Kabupaten Ogan Komering Ilir dapat dijadikan basis pengembangan usaha rakyat karena sub sektor ini cukup menjanjikan sebagai alternatif upaya menciptakan cita – cita pembangunan yang memberdayakan perekonomian rakyat, karena sub sektor ini sangat menyentuh ke bawah.

B. Maksud dan Tujuan

Pembangunan yang dilaksanakan pada hakekatnya bertujuan mensejahterakan masyarakat yang berkeadilan, upaya merealisasikan maksud tersebut diperlukan rambu – rambu agar tidak terjadi distorsi dalam pelaksanaan. Penyusunan rencana strategik bertujuan.

a. Membuat rencana pembangunan peternakan di Kabupaten Ogan Komering Ilir yang berorientasi ke depan dengan sasaran yang ingin dicapai 5 (lima) tahun.

b. Sebagai kerangka acuan kerja pelaksanaan pembangunan sub sektor peternakan Ogan Komering Ilir dan sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program.

c. Menetapkan kebijakan yang dapat diukur kinerjanya, sehingga dapat dijadikan sebagai instrumen pertangunggjawaban (akuntabilitas) Dinas Peternakan Kabupaten Ogan Komering Ilir.

C. Landasan Hukum

Secara yuridis keberadaan Dinas Peternakan Kabupaten Ogan Komering Ilir berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008, yang merupakan penyempurnaan dari Perda-Perda sebelumnya. Landasan Hukum tersebut mengamanatkan tugas pokok Dinas Peternakan adalah menyelenggarakan urusan rumah tangga dan tugas perbantuan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten dan atau Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan di bidang peternakan. Tugas pokok tersebut dijabarkan dalam bentuk dan fungsi Dinas Peternakan sebagai berikut :

a. Melaksanakan pembinaan umum dibidang peternakan.

b. Melaksanakan urusan tata usaha dibidang peternakan.

c. Melaksanakan pelayanan pendaftaran usaha peternakan.

d. Melaksanakan penanganan teknis sesuai dengan tugas pokoknya.

e. Melaksanakan pengkajian dan penerapan teknologi.

Lembaga Dinas Peternakan dalam menjalankan fungsinya dalam bantuk organisasi yang terdiri dari Kepala Dinas, 1 bagian Sekretariat, 4 Bidang, 12 Seksi dan 3 Sub Bagian. Secara struktur organisasi masing – masing bagian mempunyai tugas utama.

Renstra diperlukan sebagai instrument untuk lebih mengarahkan tujuan organisasi yang akan dicapai dan bagaimana cara mencapainya. Renstra merupakan awal dari proses akuntabilitas suatu lembaga kepada pihak – pihak yang berkepentingan (stakeholders), sehingga proses penyusunan renstra ini memperhatikan kebutuhan stakeholders.

D. Hubungan Rencana Stratejik SKPD dengan Dokumen Perencanaan

Lainnya

Pemenuhan permintaan konsumen dalam hal ini masyarakat akan produk ternak merupakan landasan yang bertolak belakang dalam penyusunan rencana strategik pembangunan peternakan di Ogan Komering Ilir. Penyediaan permintaan tersebut sebaiknya disediakan dari hasil produk lokal, untuk itu Dinas Peternakan harus mampu menggerakkan pelaku dibidang Peternakan (stakeholders) agar dapat meningkatkan populasi ternak, karena melalui peningkatan populasi diharapkan mampu meningkatkan produksi berupa daging, telur dan susu.

Peningkatan populasi ternak dilakukan melalui penekanan aspek yang sangat mempengaruhi perkembangan ternak tersebut yaitu mencakup upaya meningkatkan tingkat kelahiran, menekan angka kematian ternak dan memanfaatkan teknologi sehingga mampu meningkatkan produksi serta perangkat pendukung lainnya, dengan tanpa mengabaikan aspek masyarakat setempat. Melalui program tersebut diharapkan dapat memperbaiki tingkat penghidupan pelakunya.

BAB II

GAMBARAN PELAYANAN SKPD DINAS PETERNAKAN

A. Tugas Pokok dan Fungsi

Secara yuridis keberadaan Dinas Peternakan Kabupaten Ogan Komering Ilir berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008, yang merupakan penyempurnaan dari Perda-perda sebelumnya. Landasan hukum tersebut mengamanatkan tugas pokok Dinas Peternakan adalah menyelenggarakan urusan rumah tangga dan tugas perbantuan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten dan atau oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan di bidang peternakan. Tugas pokok tersebut dijabarkan dalam bentuk dan fungsi Dinas Peternakan sebagai berikut :

a. Melaksanakan pembinaan umum dibidang peternakan.

b. Melaksanakan urusan tata usaha dibidang peternakan.

c. Melaksanakan pelayanan pendaftaran usaha peternakan.

d. Melaksanakan penanganan teknis sesuai dengan tugas pokoknya.

e. Melaksanakan pengkajian dan penerapan teknologi.

Lembaga Dinas Peternakan dalam menjalankan fungsinya dalam bentuk organisasi dari Kepala Dinas, 1 bagian Sekretariat, 4 Bidang, 12 Seksi dan 3 Sub Bagian. Secara struktur organisasi masing –masing bagian mempunyai tugas utama.


BAB III

ISU – ISU STRATEGIS

A. Kondisi Umum Daerah Masa Kini

Populasi ternak di Kabupaten OKI selama dua decade terakhir mengalami pertumbuhan yang sangat beragam karena peertumbuhan populasi baik pertambahan atau penurunan akan sangat bergantung berbagai factor, antara lain penggunaan teknologi dalam pengelolaan ternak, tingkat kematian dan kelahiran ternak, keluar masuk ternak dalam wilayah Kab. OKI dan factor tingkat permintaan akan hasil ternak. factor terakhir sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk dan tingkat pendapatan konsumen serta harga komoditi produk peternakan itu sendiri. Populasi ternak tumbuh 2,09% sampai 5,02% per tahun. Data disajikan pada tabel 1.

Tabel 1. Perkembangan Populasi Ternak di Kabupaten OKI

 

No

Komoditi

Populasi

% Tumbuh

2005

2006

2007

2008

1

Sapi Potong

26.930

27.445

30.387

32.641

1,02

2

Kerbau

7.024

7.939

12.524

13.190

1,13

3

Kambing

20.652

23.555

24.341

27.063

1,07

4

Domba

560

656

1.433

1.638

1,17

5

Babi

2.410

2.733

3.515

3.375

1,13

6

Ayam Pedaging

32.000

34.500

67.830

153.800

1,05

7

Ayam Petelur

0

0

0

0

0

8

Ayam Buras

776.391

801.611

779.100

776.550

1,03

9

Itik

165.924

166.515

130.160

132.580

1,00

 

Keterangan :

i. Angka dalam ekor

ii. Pertumbuhan dihitung dengan metoda penduga yang divalidasi melalui Yt = Yo (1+r)t

Tabel 1. menunjukkan bahwa pertumbuhan tertinggi dialami oleh jenis ayam buras, hal ini wajar karena ayam buras merupakan komoditi ternak yang pemeliharaanya tidak banyak membutuhkan persyaratan. Secara empiris pemeliharaannya masyarakat baik di kota maupun desa dengan skala usaha sambilan, sebaliknya pertumbuhan terkecil pada komoditi ternak domba, rendahnya pertumbuhan dimungkinkan ternak ini kurang disukai oleh konsumen produk peternakan sehingga secara ekonomis peternak kurang berminat mengembangkan ternak tersebut.

Sejalan dengan perkembangan hasil pembangunan di Indonesia yang memperbaiki tingkat pendapatan penduduknya, angka-angka pertumbuhan tersebut belum mampu mengimbangi akan kebutuhan permintaan baik permintaan riil maupun standar kebutuhan gizi masyarakat. Perlu diperhatikan bahwa komoditi ternak sapi potong dan ayam ras saat ini Kabupaten OKI mampu menopang sebagian kebutuhan permintaan luar daerah, arti komoditi tersebut mampu memenuhi permintaan riil penduduk Kabupaten OKI. Sebagai gambaran sebaran populasi disajikan pada tabel 2.

Tabel 2. Sebaran Populasi Ternak per Kecamatan di Kabupaten OKI

Tahun 2008

 

No

Kecamatan

Sapi

Kerbau

Kambing

Domba

Babi

Ayam Buras

Itik

Ayam Pedaging

Ket

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Kayuagung

Pampangan

Pkl. Lampam

Sp.Padang

Air Sugihan

Mesuji

Mesuji Raya

Mesuji Makmur

Lempuing

Lempuing Jaya

Pedamaran

Pedamaran Timur

Tg. Lubuk

Teluk Gelam

Tulung Selapan

Jejawi

Cengal

Sungai Menang

362

3.611

2.313

605

2.964

1.100

995

2.749

3.948

3.692

1.450

659

569

330

1.938

1.078

2.556

1.722

65

5.582

1.168

43

20

18

-

18

130

225

255

155

6

40

2.848

1.294

590

733

295

2.682

985

560

2.200

1.720

2.450

2.542

2.916

2.840

1.225

993

556

930

1.305

546

1.120

1.198

-

156

-

102

56

18

4

-

473

198

18

-

36

19

456

26

76

-

195

-

-

-

-

80

600

213

1.107

1.180

-

-

-

-

-

-

-

-

42.000

31.000

63.000

10.500

61.000

18.450

9.820

72.400

81.860

81.500

19.200

11.600

7.600

6.300

57.000

20.500

29.000

154.000

3.500

10.600

2.500

2.750

5.500

550

410

1.420

5.670

4.590

4.500

1.400

4.390

1.200

32.600

25.200

17.500

8.300

100.000

2.500

2.800

-

3.500

-

-

3.000

-

2.500

7.000

-

-

22.500

2.300

5.600

-

2.100

Jumlah

32.641

13.190

27.063

1.638

3.375

776.550

132.580

153.800

 

Tabel 2 menunjukkan bahwa ternak sapi, kerbau, kambing, domba banyak terdapat di daerah Lempuing, Mesuji, Pampangan dan Pedamaran, karena di daerah ini ternak tersebut dipelihara secara tradisional sehingga tidak banyak membutuhkan tenaga kerja. Demikian pula halnya dengan kerbau, saat ini sentra ternak kerbau terdapat di Kecamatan Pampangan, dapat dimaklumi karena daerah ini sebagian wilayahnya berupa rawa sehingga cocok dengan habitat yang diinginkan oleh ternak tersebut.

1. Konsumsi dan Produksi

Produksi daging Kab. OKI juga terjadi peningkatan, namun produksi tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan daging masyarakat Kab. OKI. Untuk mengetahui Produksi daging Kab. OKI dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3. Produksi Daging Kab. OKI

 

No

Tahun

Produksi

Sapi

Kerbau

Unggas

Total

1

2

3

4

5

2004

2005

2006

2007

2008

1.296,17

1.323,36

1.351,12

1.373,24

1.395,72

228,00

232,00

236,00

241,00

246,00

2.418,83

2.469,64

2.520,88

2.577,76

2.635,28

3.943

4.025

4.108

4.192

4.277

Jumlah

%

1,0208

1,0208

1,0208

 

Berdasarkan data tersebut diatas bahwa sumbangan ternak sapi terhadap produksi daging di Kab. OKI rata-rata 5 tahun adalah sebesar 44%, ternak kerbau 5%, dan ternak unggas 51%. Jika dikonversikan kedalam bentuk karkas, maka sumbangan daging dari ternak sapi sebesar 1.899 ton atau setara dengan 12.660 ekor sapi, kerbau sebesar 202 ton setara dengan 1.295 ekor kerbau dan unggas 1.991 ton atau setara dengan 1.496.995 ekor unggas.

2. Konsumsi Daging Kab. OKI

Konsumsi daging Kab. OKI ditentukan oleh jumlah penduduk dan jumlah pemotongan. Konsumsi tersebut setiap tahunnya selalu meningkat namun belum sesuai dengan standar konsumsi gizi secara Nasional pada tahun 1993 yaitu daging 10,1 kg/kapita/tahun.

Tabel 4. Konsumsi Daging Kab. OKI

 

No

Tahun

Produksi

Sapi

Kerbau

Unggas

Total

1

2

3

4

5

2004

2005

2006

2007

2008

4,19

4,50

4,83

5,18

5,50

4,70

4,91

5,13

5,36

5,60

3,56

3,73

3,91

4,10

4,30

12,45

13,14

13.87

14,64

15,40

Jumlah

%

6,89

4,28

4,56

 

Berdasarkan data tersebut diatas bahwa konsumsi daging di Kab. OKI sampai tahun 2004 baru mencapai 4,19 Kg/Kapita/tahun, hal ini berarti ada perbedaan konsumsi sebesar 6,81 Kg/kapita/tahun jika dibandingkan dengan standar gizi Nasional pada tahun 2004.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi tersebut maka diperkirakan masyarakat Kab. OKI membutuhkan daging sebesar 4.502 ton yang diharapkan dapat dipenuhi dari 15.250 ekor sapi, 1.400 ekor kerbau dan 2.500.000 ekor unggas. Guna memenuhi kekeurangan tersebut Dinas Peternakan Kab. OKI telah melaksanakan kebijaksanaan antara lain :

1. Meningkatkan angka kelahiran dan menurunkan angka kematian ternak.

2. Meningkatkan jumlah populasi ternak.

3. Mengatur pemasukan dan pengeluaran ternak, Bibit Ternak.

4. Meningkatkan kualitas dan identitas ternak.

Tingkat konsumsi sangat signifikan terhadap tingkat pengetahuan masyarakat akan produk pangan yang bergizi dan perbaikan income penduduk. Dalam hukum ekonomi jika pendapatan masyarakat membaik akan terjadi perubahan pola makanan, hal ini terjadi adanya perubahan selera dimana perubahan selera ditunjang melalui pendapatan yang meningkat. Produk peternakan berupa daging, telur dan susu dimasa lalu masih dianggap sebagai bahan makanan orang-orang tertentu (kelas menengah keatas), namun selama decade terakhir mengalami pergeseran pola pikir masyarakat yang menganggap produk peternakan sebagai kebutuhan untuk memenuhi gizi. Ketika produk peternakan sudah dianggap masyarakat sebagai kebutuhan pokok, konsekuensinya terjadi booming terhadap tingkat permintaan.

SARANA DAN PRASARANA PENDUKUNG.

Dalam menjalankan usaha peternakan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah adalah sebagai berikut :

Tabel 5. Sarana / Prasarana Pendukung Usaha Sub Sektor

Peternakan di Kab. OKI

 

No

Sarana/Prasarana

Jumlah

Lokasi

Ket

1.

2.

3.

4.

Poskeswan

Pasar Hewan

Petugas IB,PKB,ATR

Petugas Lapangan & PPL

2 unit

2 Unit

24 Orang

46 Orang

Surya Adi Mesuji, Tugu Jaya Lempuing Jaya

Tugu Jaya, Surya Adi

Lempuing, Mesuji, Tg.Lubuk

Pedamaran, Pampangan

Kab. OKI

 

B. Kondisi yang diharapkan dan proyeksi kedepan

Bertolak dari keadaan seperti diuraikan diatas, kedepan pembangunan peternakan harus memperhitungkan potensi lokal sehingga pemerintah akan lebih mudah dalam mengarahkan masyarakat dan diharapkan dapat lebih cepat memacu pengembangannya serta akan menjadi spesifik daerah. Konsepsi dasar dalam mengarahkan pembangunan peternakan di Ogan Komering Ilir adalah menyeimbangkan antara permintaan dan penawaran, dalam konteks pemanenan masih dibawah ambang toleransi dan tidak mengganggu atau mengurangi populasi. Konsepsi ini mempunyai prinsip pokok yaitu pemanfaatan potensi untuk pemenuhan kebutuhan manusia dengan tanpa mengorbankan kepentingan kedepan (antar dan inter generasi), dengan demikian akan terwujud pembangunan peternakan yang berkelanjutan.

Tabel 6. Gagasan Pengelolaan Potensi Peternakan Melalui Kearifan

Lokal dan sasaran yang akan dicapai.

 

No

Pengelolaan Peternakan

Sasaran

Bidang

Pengelolaan

1.

2.

3.

Sosial Ekonomi

Sosial Budaya

Sosial Ekologi

Memenuhi Kebutuhan Lokal

Plasma nutfah dan ternak potensial

Keanekaragaman ternak tetap terjaga

Ø Pertumbuhan regional

Ø Pertumbuhan ekonomi

Ø Perdagangan Nasional, regional, atau internasional

Ø Pemasukan devisa

Ø Ekoturisme

Ø Perlindungan terhadap plasma nutfah

Ø Dimanfaatkan secara tradisional

Ø Dimanfaatkan secara ritual

Perlindungan terhadap habitat untuk jenis langka atau jenis yang mempunyai nilai ekonomi penting untuk kelangsungan sumberdaya hewan

 

Tabel 7. Target Pertumbuhan Produksi dan Konsumsi Daging dan

Telur sampai dengan Tahun 2008

 

Tahun

Daging (Ton)

Telur (Ton)

Produksi

Konsumsi

Produksi

Konsumsi

2004

2005

2006

2007

2008

2009

3.469

3.555

3.644

3.735

3.829

3.924

6.77

7.10

7.46

7.84

8.23

8.64

6.249

6.561

6.889

7.234

7.596

7.975

5.29

5.55

5.83

6.12

6.43

6.75

 

Upaya memenuhi kebutuhan permintaan melalui peningkatan produksi adalah memacu pertumbuhan populasi ternak penghasil komoditi tersebut (daging dan telur), berlandaskan tingkat pertumbuhan selama dua decade, kedepan pertumbuhan populasi harus ditingkatkan agar tercapai keseimbangan.

Tabel 8. Proyeksi Perkembangan Populasi Ternak yang diharapkan

2009 – 2014

 

No

Komoditi

Populasi

r(%)

2009

2010

2011

2012

2013

1

2

3

4

5

6

7

8

9

Sapi

Kerbau

Kambing

Domba

Babi

Ayam Petelur

Ayam Pedaging

Ayam Buras

Itik

33.200

13.300

27.250

1.740

3.450

-

160.000

780.500

135.000

33.834

13.532

27.443

1.745

3.920

-

163.312

852.930

136.094

34.468

13.746

27.636

1.750

4.390

-

166.624

925.361

137.187

35.102

13.969

27.829

1.755

4.860

-

169.936

997.791

138.821

35.736

14.192

28.022

1.760

5.330

-

173.248

1.070.222

139.374

1.91

1.68

0.71

0.28

13.61

0

9.28

2.07

0.81

 

Pertumbuhan populasi pada tabel diatas merupakan tingkat pertumbuhan minimum yang harus dicapai sehingga dapat menopang kebutuhan produk peternakan, khususnya komoditi daging dengan tanpa mengurangi populasi yang sudah ada sebelumnya. Jika target minimum tercapai maka permintaan akan produk daging akan terpenuhi dengan asumsi tingkat pertumbuhan naik seperti sebelumnya, sementara daya dukung stok tetap terjaga. Melalui tingkat pertumbuhan minimum tersebut maka akan tercapai sasaran program pembangunan peternakan yaitu memenuhi kebutuhan daging masyarakat Kabupaten OKI.

Secara makro dengan memberdayakan potensi lokal akan terwujud sasaran pembangunan, yakni mensejahterakan masyarakat tanpa merusak lingkungan dan mengorbankan kepentingan antar generasi. Pertumbuhan populsi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu meningkatkan tingkat kelahiran dan menekan angka kematian dari rata-rata 5% menajdi maksimum 2%.

Aspek produksi dan konsumsi keadaan yang diharapkan adalah tercapainya keseimbangan pertumbuhan tingkat supply dengan demand, untuk mengimbangi tingkat pertumbuhan permintaan daging sebesar 4,90% per tahun dalam 5 tahun, maka tingkat pertumbuhan supply daging harus dipacu dari 4,16% menjadi 6,47% per tahun. Upaya pencapaian sasaran yang ditargetkan yaitu harus ditunjang melalui tersedianya sumberdaya manusia yang professional, angka komposis kebutuhan pegawai tertera pada tabel berikut.

Tabel 9. Kebutuhan Pegawai Dinas Peternakan Kab. OKI

Diakhir tahun 2009

 

No

Kualifikasi

Kabupaten

Kecamatan

Jumlah

1.

2.

3.

4.

Magister

Sarjana

D 3

Lainnya

6

13

15

13

-

18

36

18

6

31

51

31

Jumlah

47

72

119

 

BAB IV

VISI, MISI, TUJUAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

A. Visi dan Misi

1. Visi

Mengingat kehidupan suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan eksternal dan internal, maka untuk tetap eksis, antisipatif dan inovtif diperlukan pemikiran yang berwawasan pandang jauh kedepan. Mempertimbangkan dari hasil – hasil yang dicapai selama ini adanya tantangan yang cukup berat dimasa mendatang diperlukan visi.

Visi Dinas Peternakan Kabupaten Ogan Komering Ilir adalah :

“Tersedianya ternak yang bermutu dan mudah diperoleh berbasis sumberdaya lokal”.

2. Misi

1. Menyediakan ternak yang berkualitas dalam jumlah cukup.

2. Memberdayakan SDM peternakan agar dapat menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi.

3. Melestarikan sumberdaya alam Kabupaten Ogan Komering Ilir.

4. Mengembangkan lapangan kerja di bidang agribisnis peternakan.

B. Tujuan

Tujuan pembangunan peternakan Kabupaten Ogan Komering ILir tahun 2009, yaitu :

  1. Meningkatkan produksi dan kualitas ternak.
  2. Meningkatkan sarana dan prasarana peternakan.
  3. Memelihara dan mengembangkan kelestarian sumberdaya alam peternakan.
  4. Meningkatkan pendapatan dan kesempatan kerja peternak.

C. Strategi

Untuk mencapai hasil yang konsisten dengan visi dan misi diatas, diperlukan suatu strategi Dinas Peternakan adalah :

1. Pengembangan wilayah berdasarkan komoditas ternak unggulan.

2. Pengembangan kelembagaan petani peternak
Peningkatan usaha dan industri peternakan.

3. Optimalisasi pemanfaatan dan pengamanan serta perlindungan SDA lokal.

4. Pengembangan kemitraan yang lenih luas dan saling menguntungkan.

5. Mengembangkan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan.

D. Kebijaksanaan

a. Umum

Pencapaian keadaan yang diharapkan yaitu swasembada daging dan telur dengan pendekatan peningkatan produksi melalui pertumbuhan populasi diperlukan upaya pembenahan dan keterpaduan setiap sub system agribisnis peternakan (input, proses, produksi, pengolahan, dan pemasaran).

b. Operasional

1. Pembagian Wilayah.

Pengembangan akan dilakukan berdasarkan wilayah, dengan memperhatikan daya dukung lahan atau location qution (LQ) melalui pembentukan sentra – sentra kawasan usaha peternakan menurut jenis ternak, berdasarkan prioritas pengembangan komoditi ternak.

Tabel 10. Pemanfaatan Potensi yang dapat dikembangkan sebagai

Sentra Kawasan Usaha Peternakan di Kab. OKI

 

No

Kecamatan

Ternak Besar

Ternak Kecil

Unggas

S.Ptg

S.Prh

Krb

Kbg

Dmb

Bb

AR

AB

Itik

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13

14

15

16

17

18

Kayuagung

SP.Padang

Jejawi

Pampangan

Pkl. Lampam

Tl.Selapan

Cengal

Air Sugihan

Pedamaran

Pdmrn Timur

Tg.Lubuk

Tlk. Gelam

Lempuing

Lpg Jaya

Mesuji

Mesuji Raya

Msj Makmur

S. Menang

**

**

****

****

****

**

****

****

***

***

**

**

****

****

****

****

****

***

**

*

***

***

***

****

***

*

**

**

*

*

**

**

****

****

****

***

**

**

**

****

****

**

*

***

***

***

**

**

****

****

****

****

****

*

**

**

**

*

****

***

***

****

****

**

**

****

****

**

*

**

***

***

***

**

**

*

*

*

*

****

****

***

***

***

****

****

***

**

***

**

*

**

**

****

***

**

**

***

***

****

****

*

*

*

***

 

Keterangan :

S.Ptg = Sapi Potong, S.Prh = sapi perah, Krb = kerbau, Kbg = kambing, Dmb = domba, Bb = babi, AR = ayam ras, AB = ayam buras, dan itik.

**** Prioritas utama, *** Prioritas kedua

** Prioritas ketiga, * Prioritas keempat.

2. Pengembangan Bibit

Perbaikan mutu bibit ternak melalui pembentukan sentra perbibitan di pedesaan, persilangan dan inseminasi buatan, dan perbaikan kualitas pakan hijauan melalui penggalakan penggunaan rumput unggul.

3. Pengembangan Produksi

Peningkatan bobot badan ternak penghasil daging melalui teknologi tepat guna, meningkatkan pengendalian, pengawasan peredaran pakan jadi dan bahan pakan, pemotongan ternak betina produktif, meningkatkan angka kelahiran dan menurunkan angka kematian serta pengendalian lalu lintas ternak.

4. Peningkatan Pelayanan

Mengoptimalkan fungsi poskeswan untuk pelayanan kesehatan hewan dan IB, meningkatkan penyuluhan dan mengembangkan pusat informasi bidang peternakan, meningkatkan pengawasan dan pengendalian peredaran bahan pangan asal ternak.

5. Mengembangkan Kelembagaan Petani Ternak dan Sumber daya Manusia.

Mengoptimalkan kinerja kelompok ternak, koperasi, organisasi profesi, dan asosiasi bidang peternakan dengan mendorong profesionalitas insan pelaku bidang peternakan.

6. Bidang Pengembangan Usaha

Mendorong dan mengembangkan investasi di bidang peternakan dengan mengintensifkan pencarian akses permodalan pasar dan sarana produksi usaha peternakan, mengembangkan pola kemitraan.

7. Bidang Manajemen dan Alih Teknologi

Kebijakan ditempuh adalah menerapkan total quality menajemen melalui menajemen perubahan. Manajemen ini pada prinsipnya ada dua, yaitu pemusatan perhatian pada klien dan perbaikan terus menerus. Sementara alih teknologi didorong melalui kelompok tani, organisasi profesi, asosiasi dan pakar, serta memperhatikan sumber daya lokal dan spesifik lokasi serta berhasil guna.

8. Optimalisasi Pemanfaatan Sumberdaya, Sarana dan Prasarana. Pengembangan sumberdaya, sarana dan prasarana peternakan dimaksudkan untuk memberikan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pelayanan yang efektif dalam rangka peningkatan populasi, produksi guna meningkatkan ketersediaan komoditi atau produk – produk peternakan untuk konsumsi dalam negeri.


BAB V

PROGRAM DAN KEGIATAN

1. Program

Program Dinas Peternakan dari Tahun 2009 – 2014 berdasarkan Permendagri 59 Tahun 2007 adalah sebagai berikut :

a Pemberdayaan Penyuluh Pertanian / Perkebunan Lapangan

b Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak

c Peningkatan Produksi Hasil Peternakan

d Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Peternakan

e Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan

BAB VI

PENUTUP

Penerapan konsep akuntabilitas untuk mencapai kepemerintahan yang baik dimulai dari langkah awal pengembangan strategik. Potensi pencapaian hasil masa mendatang pada tahapan ini ditentukan oleh keberhasilan menjalankan tiga hal, yaitu : melibatkan stakeholders menaksir kondisi lingkungan internal dan eksternal, menyelaraskan dengan program/kegiatan, system prosedur serta sumberdaya.

Perencanaan strategic ini merupakan kesepakatan bersama seluruh pegawai Dinas Peternakan Kabupaten Ogan Komering Ilir yang merupakan perwujudan niat dan cita – cita luhur dalam menunjang eksistensi Dinas Peternakan Kabupaten Ogan Komering Ilir, serta tetap melibatkan unsur stakeholders.

Langkah melibatkan stakeholders dimulai dengan penyerahan perencanaan strategik ini ke Bupati Ogan Komering Ilir sebagai salah satu stakeholders untuk dubulatkan. Demikian juga pembulatan stakeholders Kabupaten Ogan Komering Ilir terutama Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir, DPRD dan pihak lain yang berkepentingan terutama masyarakat.

 

Menghadapi lingkungan yang senantiasa berubah, tindakan – tindakan yang pro aktif dan partisipatif para pegawai merupakan prasyarat utama dalam mengantisipasi masa depan. Dengan tindakan/usaha tersebut diharapkan perencanaan strategic kini akan dapat diwujudkan dengan nyata.